(hasil diskusi dan diolah dari berbagai sumber oleh Gemini AI)
Melacak Identitas Kerajaan Holing Melalui Kronik Dinasti Tang dan Epigrafi Abad ke-7
Abstrak
Historiografi arus utama sering kali
mengaitkan asal-usul nama "Jepara" dengan folklor "Ujung
Para" dari era Kesultanan Demak (abad ke-15). Namun, pendekatan penulisan
sejarah tersebut mengandung bias anakhronisme yang mengaburkan eksistensi
peradaban pesisir Jawa purba. Melalui metode silang data antara fonetik kronik
Dinasti Tang (abad ke-7), Catatan Perjalanan Biksu Hwining, serta bukti
epigrafi Prasasti Sojomerto dan Tuk Mas, esai ini mengajukan hipotesis radikal:
kata "Japara" bukanlah toponimi baru dari era Islam, melainkan nama
asli dari pusat politik dan pelabuhan Kerajaan Jawa (Holing/Kalingga) abad ke-7
yang dicatat secara terpotong oleh lidah pengelana Tiongkok sebagai
"Japa" atau "Japo".
## I. Pendahuluan: Gugatan Terhadap Teori
"Ujung Para"
Buku-buku sejarah arus utama di Indonesia
secara seragam mencatat bahwa nama Kabupaten Jepara berasal dari frasa Ujung
Para (ujung tempat pembagian ikan nelayan) yang eksis pada era Walisongo dan
perkembangan Kesultanan Demak. Teori ini memiliki kelemahan metodologis yang
fatal.
Wilayah pesisir utara lereng Gunung Muria
(khususnya wilayah Keling, Jepara) telah tercatat sebagai bandar niaga
internasional dan pusat keagamaan yang sangat maju sejak abad ke-7 Masehi di
bawah pemerintahan Ratu Shima. Sangat tidak logis jika sebuah pusat
kosmopolitan yang telah berinteraksi dengan kekaisaran global selama 800 tahun
tidak memiliki nama wilayah yang mapan, lalu baru dinamai secara acak
berdasarkan aktivitas nelayan lokal di abad ke-15. Narasi Ujung Para
terindikasi kuat sebagai folk etymology (dongeng rakyat yang dicocokkan
belakangan) yang diadopsi secara mentah oleh sejarawan modern.
## II. Dekonstruksi Filologi: Peluluhan
Suara "Japara" Menjadi "Japa/Japo"
Dalam kitab Xin Tang Shu (Sejarah Baru
Dinasti Tang), para pengelana Tiongkok mencatat adanya pergeseran nama. Pada
mulanya, mereka menyebut penduduk di pulau tersebut sebagai "Kaling
India" (merujuk pada nama Kerajaan Kalingga yang kental pengaruh India).
Namun, setelah mereka berinteraksi secara intensif dan mengetahui bahwa entitas
politik Jawa berbeda dengan India, kronik Tang mengubah sebutan wilayah
tersebut menjadi 闍婆 yang dalam
dialek kuno dilafalkan sebagai Japa atau Japo (Mandarin modern: Shepo).
Sistem fonetik aksara Tionghoa kuno sangat
kaku dan cenderung menyukai nama berbentuk dua suku kata (disyllabic). Lidah
para juru tulis Dinasti Tang mengalami kesulitan besar ketika mengeja kata asli
pribumi Nusantara yang memiliki tiga suku kata atau berakhiran konsonan mati.
Ketika masyarakat lokal menyebut nama wilayah mereka, yaitu
"Ja-pa-ra", pendengar dari Tiongkok kuno secara linguistik memotong
suara akhir yang dianggap sebagai partikel/vokal lemah, dan hanya menangkap dua
suku kata terdepan yang paling tegas, yaitu Japa/Japo (Jawa).
## III. Pembuktian Arkeologis dan Epigrafi:
Jejak Migrasi Politik
Hipotesis bahwa Japara adalah nama kuno
abad ke-7 diperkuat oleh garis waktu perpindahan pusat kekuasaan di Jawa Tengah
yang terekam pada dua prasasti:
1.
Prasasti Tuk Mas (Abad ke-6 M): Ditemukan di pedalaman (Magelang), berbahasa
Sanskerta, menunjukkan fase awal Kalingga yang sangat berkiblat pada tradisi
India. Ini menjelaskan mengapa Dinasti Tang awalnya menyebut wilayah ini
sebagai "Kaling India".
2.
Prasasti Sojomerto (Abad ke-7 M): Ditemukan di pesisir utara (Batang), ditulis
dalam Bahasa Melayu Kuno oleh tokoh bernama Dapunta Selendra (Syailendra).
Keberadaan Prasasti Sojomerto membuktikan
adanya migrasi politik kelompok maritim dari barat menyusuri pesisir utara Jawa
Tengah menuju ke timur (lereng Muria). Kelompok pelaut ini kemudian memindahkan
ibu kota Kerajaan Holing ke pesisir utara yang kini menjadi wilayah Kecamatan
Keling, Jepara. Di pelabuhan baru inilah identitas lokal yang khas maritim
lahir, dan wilayah tersebut dinamai Japara oleh penduduk setempat untuk
menegaskan wilayah hunian mereka (Para-Japa / Komunitas Jawa).
## IV. Kesaksian Biksu Hwining (664 M) dan
I-Tsing
Catatan perjalanan Biksu Hwining dari
Dinasti Tang yang menetap selama tiga tahun di Holing menyebutkan bahwa pusat
keagamaan tempat ia menerjemahkan kitab suci berada di wilayah pesisir yang
kaya akan garam dan berdekatan dengan gunung tempat para pertapa. Deskripsi
geografis ini sangat presisi menunjuk pada wilayah utara Jepara (Keling dan
Donorojo) yang berada di kaki Gunung Muria purba (yang pada abad ke-7 masih
berupa pulau terpisah dari daratan utama Jawa).
Di wilayah Keling pula hingga saat ini
ditemukan kompleks pemujaan kuno pra-Islam seperti Candi Angin dan Candi
Bubrah, yang menjadi bukti fisik bahwa Jepara utara adalah jantung dari wilayah
yang oleh Dinasti Tang disebut sebagai pusat Kerajaan Japo/Japa/Jawa.
## V. Kesimpulan: Membalik Urutan Sejarah
Berdasarkan rekonstruksi multidisiplin ini,
dapat disimpulkan bahwa para sejarawan arus utama telah terbalik dalam melihat
urutan waktu penamaan.
Bukan kata Japa (Cina kuno) yang melebar
menjadi Japara di era modern akibat mitos pembagian ikan. Kebalikannya, nama
asli imperium maritim Jawa di utara Muria itu sejak abad ke-7 Masehi memang
adalah JAPARA.
Nama asli inilah yang kemudian dicatat
secara terpotong oleh Dinasti Tang menjadi Japa/Japo, lalu diselamatkan dari
kepunahan sejarah oleh memori kolektif masyarakat pesisir selama berabad-abad,
hingga akhirnya dibungkus oleh mitos baru bercorak Islam di era Walisongo untuk
menjaga relevansi namanya di zaman yang baru. Dengan demikian, nama Jepara
memiliki usia yang jauh lebih tua, setara dengan usia peradaban tertua di
Nusantara.
#asal-usulnamajepara #kerajaankalingga #ratushima
No comments:
Post a Comment