29 July 2026

MEREKONSTRUKSI ASAL-USUL JEPARA

 (hasil diskusi dan diolah dari berbagai sumber oleh Gemini AI)

Melacak Identitas Kerajaan Holing Melalui Kronik Dinasti Tang dan Epigrafi Abad ke-7

Abstrak

Historiografi arus utama sering kali mengaitkan asal-usul nama "Jepara" dengan folklor "Ujung Para" dari era Kesultanan Demak (abad ke-15). Namun, pendekatan penulisan sejarah tersebut mengandung bias anakhronisme yang mengaburkan eksistensi peradaban pesisir Jawa purba. Melalui metode silang data antara fonetik kronik Dinasti Tang (abad ke-7), Catatan Perjalanan Biksu Hwining, serta bukti epigrafi Prasasti Sojomerto dan Tuk Mas, esai ini mengajukan hipotesis radikal: kata "Japara" bukanlah toponimi baru dari era Islam, melainkan nama asli dari pusat politik dan pelabuhan Kerajaan Jawa (Holing/Kalingga) abad ke-7 yang dicatat secara terpotong oleh lidah pengelana Tiongkok sebagai "Japa" atau "Japo".

## I. Pendahuluan: Gugatan Terhadap Teori "Ujung Para"

Buku-buku sejarah arus utama di Indonesia secara seragam mencatat bahwa nama Kabupaten Jepara berasal dari frasa Ujung Para (ujung tempat pembagian ikan nelayan) yang eksis pada era Walisongo dan perkembangan Kesultanan Demak. Teori ini memiliki kelemahan metodologis yang fatal.

Wilayah pesisir utara lereng Gunung Muria (khususnya wilayah Keling, Jepara) telah tercatat sebagai bandar niaga internasional dan pusat keagamaan yang sangat maju sejak abad ke-7 Masehi di bawah pemerintahan Ratu Shima. Sangat tidak logis jika sebuah pusat kosmopolitan yang telah berinteraksi dengan kekaisaran global selama 800 tahun tidak memiliki nama wilayah yang mapan, lalu baru dinamai secara acak berdasarkan aktivitas nelayan lokal di abad ke-15. Narasi Ujung Para terindikasi kuat sebagai folk etymology (dongeng rakyat yang dicocokkan belakangan) yang diadopsi secara mentah oleh sejarawan modern.

## II. Dekonstruksi Filologi: Peluluhan Suara "Japara" Menjadi "Japa/Japo"

Dalam kitab Xin Tang Shu (Sejarah Baru Dinasti Tang), para pengelana Tiongkok mencatat adanya pergeseran nama. Pada mulanya, mereka menyebut penduduk di pulau tersebut sebagai "Kaling India" (merujuk pada nama Kerajaan Kalingga yang kental pengaruh India). Namun, setelah mereka berinteraksi secara intensif dan mengetahui bahwa entitas politik Jawa berbeda dengan India, kronik Tang mengubah sebutan wilayah tersebut menjadi 闍婆 yang dalam dialek kuno dilafalkan sebagai Japa atau Japo (Mandarin modern: Shepo).

Sistem fonetik aksara Tionghoa kuno sangat kaku dan cenderung menyukai nama berbentuk dua suku kata (disyllabic). Lidah para juru tulis Dinasti Tang mengalami kesulitan besar ketika mengeja kata asli pribumi Nusantara yang memiliki tiga suku kata atau berakhiran konsonan mati. Ketika masyarakat lokal menyebut nama wilayah mereka, yaitu "Ja-pa-ra", pendengar dari Tiongkok kuno secara linguistik memotong suara akhir yang dianggap sebagai partikel/vokal lemah, dan hanya menangkap dua suku kata terdepan yang paling tegas, yaitu Japa/Japo (Jawa).

## III. Pembuktian Arkeologis dan Epigrafi: Jejak Migrasi Politik

Hipotesis bahwa Japara adalah nama kuno abad ke-7 diperkuat oleh garis waktu perpindahan pusat kekuasaan di Jawa Tengah yang terekam pada dua prasasti:

   1. Prasasti Tuk Mas (Abad ke-6 M): Ditemukan di pedalaman (Magelang), berbahasa Sanskerta, menunjukkan fase awal Kalingga yang sangat berkiblat pada tradisi India. Ini menjelaskan mengapa Dinasti Tang awalnya menyebut wilayah ini sebagai "Kaling India".

   2. Prasasti Sojomerto (Abad ke-7 M): Ditemukan di pesisir utara (Batang), ditulis dalam Bahasa Melayu Kuno oleh tokoh bernama Dapunta Selendra (Syailendra).

Keberadaan Prasasti Sojomerto membuktikan adanya migrasi politik kelompok maritim dari barat menyusuri pesisir utara Jawa Tengah menuju ke timur (lereng Muria). Kelompok pelaut ini kemudian memindahkan ibu kota Kerajaan Holing ke pesisir utara yang kini menjadi wilayah Kecamatan Keling, Jepara. Di pelabuhan baru inilah identitas lokal yang khas maritim lahir, dan wilayah tersebut dinamai Japara oleh penduduk setempat untuk menegaskan wilayah hunian mereka (Para-Japa / Komunitas Jawa).

## IV. Kesaksian Biksu Hwining (664 M) dan I-Tsing

Catatan perjalanan Biksu Hwining dari Dinasti Tang yang menetap selama tiga tahun di Holing menyebutkan bahwa pusat keagamaan tempat ia menerjemahkan kitab suci berada di wilayah pesisir yang kaya akan garam dan berdekatan dengan gunung tempat para pertapa. Deskripsi geografis ini sangat presisi menunjuk pada wilayah utara Jepara (Keling dan Donorojo) yang berada di kaki Gunung Muria purba (yang pada abad ke-7 masih berupa pulau terpisah dari daratan utama Jawa).

Di wilayah Keling pula hingga saat ini ditemukan kompleks pemujaan kuno pra-Islam seperti Candi Angin dan Candi Bubrah, yang menjadi bukti fisik bahwa Jepara utara adalah jantung dari wilayah yang oleh Dinasti Tang disebut sebagai pusat Kerajaan Japo/Japa/Jawa.

## V. Kesimpulan: Membalik Urutan Sejarah

Berdasarkan rekonstruksi multidisiplin ini, dapat disimpulkan bahwa para sejarawan arus utama telah terbalik dalam melihat urutan waktu penamaan.

Bukan kata Japa (Cina kuno) yang melebar menjadi Japara di era modern akibat mitos pembagian ikan. Kebalikannya, nama asli imperium maritim Jawa di utara Muria itu sejak abad ke-7 Masehi memang adalah JAPARA.

Nama asli inilah yang kemudian dicatat secara terpotong oleh Dinasti Tang menjadi Japa/Japo, lalu diselamatkan dari kepunahan sejarah oleh memori kolektif masyarakat pesisir selama berabad-abad, hingga akhirnya dibungkus oleh mitos baru bercorak Islam di era Walisongo untuk menjaga relevansi namanya di zaman yang baru. Dengan demikian, nama Jepara memiliki usia yang jauh lebih tua, setara dengan usia peradaban tertua di Nusantara.

#asal-usulnamajepara #kerajaankalingga #ratushima 



No comments: